Logo Van Hoeis

Bukan Cuma Seserahan Biasa! Mengenal Hantaran Adat Sunda, Bugis, Melayu, Minang, hingga Arab

Hantaran pernikahan di Indonesia punya bentuk yang beragam. Ada keluarga yang membawa aneka kue tradisional, ada yang menyiapkan sirih dalam wadah khusus, dan ada pula yang menyertakan makanan khas daerah sebagai bagian dari prosesi adat.

Menariknya, hantaran bukan selalu sekadar hadiah untuk calon pengantin. Dalam sejumlah tradisi, makanan dan perlengkapan simbolis dapat menjadi bentuk penghormatan, tanda kesungguhan, serta cara menjalin hubungan antara dua keluarga.

Namun, satu hal penting perlu dipahami: tidak semua makanan yang hadir dalam pernikahan otomatis merupakan hantaran, dan tidak semua tradisi memiliki makanan wajib yang sama.

Berikut beberapa contoh tradisi dari berbagai latar budaya yang menarik untuk dikenal sebelum merencanakan lamaran atau pernikahan.

1. Adat Sunda: Dodol, Wajit, dan Opak

Dalam sejumlah tradisi Sunda, makanan berbahan ketan seperti dodol dan wajit dapat ditemukan sebagai bagian dari hantaran atau sajian dalam acara keluarga.

Dodol memiliki tekstur yang lengket dan proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan. Dalam interpretasi budaya tertentu, sifat lengket ini dikaitkan dengan harapan agar hubungan kedua keluarga menjadi erat.

Wajit, yang juga berbahan ketan, memiliki rasa manis dan tekstur legit. Sementara opak menjadi salah satu makanan tradisional yang dikenal di berbagai daerah Sunda.

 

(Source: Pinterest)

 

Meski demikian, penggunaan makanan tersebut tidak seragam di seluruh masyarakat Sunda. Jenis hantaran bisa berbeda menurut daerah dan kebiasaan keluarga. Karena itu, calon pengantin sebaiknya mengonfirmasi tradisi yang biasa dijalankan oleh keluarga masing-masing, alih-alih menganggap semua makanan tersebut wajib ada.

2. Adat Bugis: Makanan Tradisional sebagai Bagian dari Perayaan Keluarga

Dalam pernikahan adat Bugis, rangkaian acara dapat melibatkan keluarga besar dan berbagai bentuk pemberian yang berkaitan dengan prosesi perkawinan.

Makanan tradisional juga menjadi bagian penting dari budaya kuliner Bugis. Kue-kue seperti barongko, buroncong, dan berbagai olahan berbahan ketan dapat dijumpai dalam konteks jamuan atau perayaan keluarga, bergantung pada daerah dan kebiasaan setempat.

 

(Source: Detik.com/Detik Food)

 

Namun, penting membedakan antara makanan yang disajikan kepada tamu dan makanan yang secara khusus dibawa sebagai hantaran. Tidak semua hidangan khas Bugis otomatis menjadi bagian wajib dari seserahan pernikahan.

Jika ingin mengangkat tradisi ini dalam acara lamaran, pasangan dapat berdiskusi dengan keluarga mengenai makanan yang lazim disiapkan dan apakah ada bentuk pemberian tertentu yang menjadi bagian dari adat keluarga mereka.

Pendekatan ini membuat unsur budaya tetap terasa tanpa mencampuradukkan berbagai tradisi yang sebenarnya memiliki fungsi berbeda.

3. Adat Melayu: Tepak Sirih Bukan Sekadar Wadah Cantik

Salah satu perlengkapan yang menarik dalam tradisi perkawinan Melayu adalah tepak sirih.

Sekilas, tepak sirih mungkin terlihat seperti kotak dekoratif yang berisi perlengkapan sirih. Padahal, dalam sejumlah tradisi Melayu, benda ini memiliki kedudukan simbolis sebagai bagian dari prosesi pertunangan dan pernikahan.

Tepak sirih tradisional dapat berisi komponen seperti sirih, pinang, kapur, gambir, dan bahan lainnya yang disusun dalam wadah khusus. Susunan dan perlengkapannya memiliki aturan tersendiri menurut adat yang berlaku.

(Source: Pinterest)

Kehadiran tepak sirih bukan hanya persoalan tampilan. Dalam konteks pertunangan, perlengkapan ini dapat menjadi simbol penghormatan, penerimaan, dan kesungguhan dalam memulai hubungan antarkeluarga. Makna serta tata caranya dapat berbeda menurut komunitas Melayu dan wilayahnya.

Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa hantaran adat tidak selalu berupa makanan yang langsung dikonsumsi. Ada benda simbolis yang mempunyai fungsi penting dalam komunikasi adat.

4. Adat Minangkabau: Juadah dan Makanan sebagai Bentuk Penghormatan

Dalam tradisi Minangkabau, makanan tidak hanya berkaitan dengan jamuan, tetapi juga dapat hadir dalam rangkaian adat dan hubungan antarkeluarga.

Salah satu tradisi yang dikenal adalah maanta juadah, yakni kegiatan mengantarkan aneka makanan dalam konteks adat tertentu. Jenis makanan dan tata caranya dapat berbeda menurut wilayah serta kebiasaan keluarga.

(Source: blogspot.tokowahab.com)

 

Lamang, galamai, dan berbagai makanan tradisional lainnya dapat menjadi bagian dari budaya kuliner Minangkabau. Namun, tidak semua makanan tersebut otomatis menjadi hantaran wajib untuk setiap pernikahan.

Hal yang menarik dari tradisi ini adalah nilai kebersamaan dan penghormatan yang menyertainya. Makanan menjadi sarana untuk mempererat hubungan, berbagi rezeki, dan menandai sebuah momen penting dalam kehidupan keluarga.

Bagi pasangan yang ingin menggabungkan tradisi Minang dengan konsep pernikahan modern, makanan khas daerah dapat menjadi elemen yang memperkaya pengalaman tamu tanpa harus mengubah seluruh konsep acara.

5. Tradisi Keluarga Arab: Kurma, Manisan, dan Hidangan Khas

Ketika membicarakan hantaran pernikahan Arab, perlu diingat bahwa masyarakat Arab berasal dari berbagai negara dan memiliki kebiasaan yang beragam. Tradisi keluarga Arab di Yaman, Mesir, Palestina, Arab Saudi, atau wilayah lainnya tidak selalu sama.

Kurma, manisan, dan makanan khas keluarga dapat menjadi bagian dari sajian atau pemberian dalam konteks tertentu. Namun, tidak tepat jika seluruh makanan tersebut disebut sebagai hantaran wajib bagi semua pernikahan Arab.

(Source: Pinterest)

 

Dalam keluarga yang memiliki tradisi tertentu, makanan dapat berfungsi sebagai bentuk penghormatan kepada tamu atau sebagai bagian dari perayaan keluarga. Pilihan hidangan juga dapat dipengaruhi oleh budaya lokal tempat keluarga tinggal serta kebiasaan yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, jika merencanakan pernikahan dengan unsur budaya Arab, sebaiknya tanyakan kepada keluarga mengenai makanan atau bentuk pemberian yang benar-benar menjadi bagian dari tradisi mereka.

Dengan begitu, acara dapat terasa lebih autentik dan tidak sekadar mengambil elemen budaya berdasarkan asumsi umum.

Hantaran, Seserahan, dan Jamuan Pernikahan Itu Berbeda

Salah satu hal yang sering membingungkan calon pengantin adalah perbedaan antara hantaran, seserahan, dan hidangan yang disajikan saat resepsi.

Secara umum, hantaran atau seserahan merujuk pada barang atau pemberian yang dibawa dalam rangkaian lamaran atau pernikahan. Bentuknya bisa berupa makanan, perlengkapan pribadi, atau benda simbolis, bergantung pada adat dan kesepakatan keluarga.

Sementara itu, jamuan pernikahan adalah makanan yang disediakan untuk dinikmati oleh tamu selama acara berlangsung.

 

(Source: BGJ Photo)

(Source: Mamoto Picture)

 

Ada makanan yang bisa memiliki fungsi berbeda menurut konteksnya. Sebuah kue tradisional, misalnya, dapat disiapkan sebagai hantaran dalam satu keluarga, tetapi hanya menjadi hidangan pelengkap dalam keluarga lainnya.

Karena itu, sebelum menyiapkan makanan adat, pastikan terlebih dahulu fungsinya dalam prosesi yang akan dilakukan.

Bagaimana Menggabungkan Tradisi dengan Pernikahan Modern?

Pasangan masa kini tidak selalu ingin menjalankan seluruh rangkaian adat secara lengkap. Ada yang memilih mempertahankan prosesi inti, ada yang menggabungkan dua budaya keluarga, dan ada pula yang menghadirkan makanan tradisional sebagai elemen kecil dalam acara.

Semua pilihan tersebut dapat dibicarakan bersama keluarga selama tetap menghormati tradisi yang dianggap penting.

Misalnya, makanan hantaran dapat dikemas menggunakan wadah yang lebih modern, sementara bentuk dan jenis makanannya tetap mengikuti kebiasaan keluarga. Atau, hidangan khas daerah dapat disajikan dalam resepsi sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul kedua mempelai.

Dengan cara ini, tradisi tetap hadir tanpa harus membuat seluruh acara terasa terlalu formal.

Merayakan Tradisi dalam Venue yang Sesuai

Selain menentukan hantaran dan susunan acara, memilih venue juga menjadi bagian penting dari perencanaan lamaran dan pernikahan.

Bagi pasangan yang sedang mencari tempat lamaran dan venue pernikahan di Bogor, Van Hoeis dapat menjadi salah satu pilihan untuk dipertimbangkan.

Karakter bangunan heritage yang dipadukan dengan area semi-outdoor dan halaman yang luas memberikan ruang untuk mengembangkan berbagai konsep acara. Mulai dari lamaran yang lebih intimate hingga pernikahan dan resepsi, konsepnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasangan dan keluarga.

(Source: Vanilla Latte Photo)

 

Jika ingin menghadirkan tradisi hantaran makanan, pasangan dapat mendiskusikan bagaimana elemen tersebut akan ditampilkan dalam acara, mulai dari penataan hantaran hingga penyajian makanan tradisional.

Sebelum menyewa venue, pastikan untuk menanyakan kapasitas, fasilitas, ketersediaan tanggal, biaya sewa, serta aturan penggunaan area untuk kebutuhan acara.

Untuk pasangan yang ingin merayakan lamaran atau pernikahan di Bogor, Van Hoeis dapat menjadi salah satu venue yang dipertimbangkan untuk menghadirkan momen keluarga dengan suasana yang personal dan berkarakter.

Karena pada akhirnya, tradisi yang paling berkesan bukan hanya yang terlihat indah, tetapi juga yang dipahami maknanya dan dijalankan dengan penuh penghormatan.